Sebagai bagian dari ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, tak salah jika kita senantiasa berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ilmu yang kita amalkan tidaklah akan sia-sia, melainkan akan senantiasa bermanfaat terutama bagi diri sendiri dan umumnya untuk orang lain. Untuk itu saya mecoba berbagi pengetahuan dan pengalaman saya melalui media blog ini, dengan harapan apa-apa yang baik dapat dimanfaatkan oleh para pembaca yang budiman.
Saya akan berusaha menyajikan artikel-artikel berkaitan dengan Pendidikan, terutama sesuai dengan bidang saya sebagai mahasiswa di Universitas Peradaban Bumiayu jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Namuan tak hanya itu, insyaAllah saya juga akan menyajikan artikel-artikel lainnya seperti Bahasa Jawa, kegiatan siswa, percobaan elektronika dan lain-lain. Hal ini agar pembaca sekalian tidak bosan dan monoton hanya dengan artikel-artikel pendidikan.
Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan, agar saya dapat terus memperbaiki diri dan kualitas artikel dalam blog ini. Silahkan kepada pembaca bisa meninggalkan komentar pada kolom komentar yang tersedia, jangan lupa subscribe dan aktifkan notifikasi dari blog saya ini.
Terdapat
beberapa pengertian membaca
menurut para ahli
seperti berikut.
Anderson dalam Tarigan (2008, hlm.7)
berpendapat bahwa:
Membaca adalah suatu
preses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding presess), berlainan dengan berbicara dan
menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding).Sebuah
aspek pembacaan sandi (decoding)
adalah menghubungkan kata-kata tertulis (written
word) dengan makna bahasa lisan (oral
language meaning) yangmencakup
pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna.
Hodgson (Tarigan, 2008, hlm.7)
menjelaskan bahwa:
Membaca adalah suatu
proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan
yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.
Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan
akan terlihat dalam suatu p kitangan sekilas dan makna kata-kata secara
individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan yang
tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses
membaca itu tidak terlaksana dengan baik.
Finochiaro dan Bonomo dalam Tarigan
(2008, hlm.7) menjelaskan
bahwa Reading
adalah bringing meaning to
and getting meaning
from printed ow written material, memetik serta memahami arti atau
makna yang terkandung di dalam bahan tertulis.
Dari ketiga definisi
yang telah dipaparkan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa membaca adalah proses pemahaman
tulisan untuk mendapatkan pesan atau makna dari sebuah tulisan.
B. Kendala-kendala dalam Membaca dan Cara
Mengatasinya
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca
pemahaman menurut Farida Rahim (2008: 16) yaitu faktor fisiologis, intelektual,
lingkungan dan psikologis. Faktor fisiologis mencakup kesehatan fisik,
pertimbangan neurologis, jenis kelamin, dan kelelahan. Gangguan alat bicara,
alat pendengaran, dan alat penglihatan juga dapat memperlambat kemajuan belajar
anak. Secara umum ada hubungan positif antara kecerdasan dengan kemampuan
membaca. Namun tidak semua siswa yang memiliki intelegensi tinggi mampu menjadi
pembaca yang baik. Faktor lingkungan dapat berupa latar belakang anak di rumah
dan faktor sosial ekonomi.
Menurut Soedarso (2006: 5) yang menjadi penghambat membaca cepat antara
lain : Vokalisasi,
gerakan bibir, gerakan kepala, menunjuk dengan jari
Hambatan
atau kendala seseorang dalam membaca akan mengurangi efektifitasnya dalam
membaca. Hal ini tentu akan berakibat pada hasil dari kita membaca.
1. Sulit
Konsentrasi
Kesulitan
konsentrasi bisa disebabkan beberapa faktor diantaranya: kelelahan fisik dan
mental, bosan, atau banyak hal lain yang sedang dipikirkan. Konsentrasi juga
dapat terganggu dengan adanya hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian seperti
suara musik yang keras, TV yang menyala, orang lalu-lalang, dan lain-lain.
Kesulitan
konsentrasi membuat pikiran melayang entah ke mana dan huruf-huruf yang dibaca
pun ikut menguap terbang. Dalam membaca konsentrasi sangat penting karena
menentukan kemampuan kita menangkap dan
memahami isi bacaan. Apalagi ketika kita
membaca cepat, maka konsentrasi yang baik akan memastikan bahwa kecepatan baca
berbanding lurus dengan pemahaman dan bukan sebaliknya.
Untuk
itu ketika mulai membaca, coba atasi faktor-faktor yang menyebabkan kita sulit berkonsentrasi. Cari tempat yang
tenang, memiliki penerangan yang cukup, suhu ruangan yang nyaman, dan tempat
duduk yang enak dipakai. Jika ada gangguan, selesaikan dulu sebelum kita mulai membaca.
Setelah
hal di atas dilakukan, selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan konsentrasi
itu sendiri. Dalam membaca cepat konsentrasi yang dibutuhkan adalah kerjasama
antara mata dan otak di mana mata bekerja menangkap kata dengan cepat dan otak
menerjemahkan, mengomentari, dan memahami kata demi kata yang ditangkap.
Latihan
Memusatkan Konsentrasi:
Ada dua
buah latihan memusatkan konsentrasi yang cukup baik yang penulis temukan di
buku karya Soedarso, Speed Reading: Sistem Membaca Cepat
dan Efektif. Dua latihan tersebut dikutip dari Chung
Moo Il, Membaca Dinamis (Cepat) berupa mengurai benang kusut
dan menghitung titik. Ternyata latihan ini tidak mudah dan kalau kita belum terbiasa, mata dapat berair dan
cukup tegang. Berikut saya adaptasi latihan tersebut untuk kita.
Perhatikan gambar benang kusut berikut. kita akan mulai dari bagian awal sesuai
petunjuk anak panah dan mengikuti jalur benang kusut tersebut sampai berakhir.
Dalam latihan ini kita tidak boleh
menggunakan alat bantu seperti jari atau pensil untuk memudahkan penelusuran.
Gunakan mata kita dan rasakan otot-otok
mata yang bekerja sambil mempertahankan konsentrasi agar jalur benang tidak
tersesat.
Apa yang
kita rasakan? Sebagian orang
melakukannya dengan perlahan dan di tengah-tengah konsentrasi menjadi buyar.
Sebagian yang lain masih terus dapat mengikuti dengan cepat. Ada orang yang
dapat melakukan dengan sangat cepat tanpa tersesat.
Bagaimana
rahasianya? Ketika kita mulai
menelusuri, mata kita sebenarnya sudah
menangkap sampai panjang tertentu di mana benang tersebut terhubung. Segera
pindah ke bagian tersebut dan tangkap lagi bagian terjauh yang dikenali mata kita. Demikian seterusnya sampai selesai.
Hal seperti
ini nantinya akan kita lakukan dalam
baca cepat di mana ketika melihat sekumpulan huruf, otak kita sudah bisa mengenali kata dan ketika kita melihat dengan jangkauan lebih luas, otak
kita sudah mengenali frasa dan bahkan
kelompok kata yang lebih besar.
Ingin
tantangan berikutnya? Silakan hitung jumlah titik-titik horizontal berikut ini
baik yang besar maupun yang kecil. Peraturan yang sama tetap berlaku: dilarang
menggunakan jari, pensil atau alat bantu hitung lainnya. Gunakan hanya mata dan
otak kita.
Apa yang
kita rasakan? Saya yakin jika belum
terbiasa mata kita akan cukup lelah dan
seperti ada otot yang ditarik-tarik. Tidak mengapa, hal tersebut pert kita baik
karena kita mulai mengaktifkan otot-otot
mata dengan lebih intensif. Nantinya dalam tulisan berikutnya kita akan belajar senam mata untuk melatih
kecepatan dan irama pergerakannya.
2.
Rendahnya Motivasi
Hambatan
berikutnya dalam membaca adalah motivasi. Gangguan ini terutama dialami
mahasiswa ketika harus membaca text book tebal yang tidak disukai. Rendahnya
motivasi akan muncul ketika kita hendak
membaca suatu buku tapi tidak terlalu tahu buku tersebut tentang apa. Maka kita akan cenderung membaca sekedarnya saja
dan tidak terlalu berminat untuk membaca dengan pemahaman yang baik.
Bagaimana
mengatasi motivasi ini? Caranya adalah kita harus menemukan jawaban mengapa kita perlu membaca buku tersebut. Jika buku
tersebut text book perkuliahan yang tebal dan membosankan, coba bayangkan apa
yang menarik dari judulnya, topik-topik yang dibahas di dalamnya, dan apa yang
bisa kita aplikasikan jika menguasai
buku tersebut. Jika buku tersebut sebuah biografi, coba bayangkat betapa
hebatnya orang yang dibahas, apa yang telah dia lakukan akan dapat menjadi
pelajaran bagi kita. Jika buku tersebut
adalah buku-buku self help atau Management,
bayangkan apa yang akan terbantu jika kita bisa menguasainya.
Jika
telah berusaha sekuat tenaga dan tetap tidak memiliki motivasi untuk membaca
sebuah buku tertentu, maka jangan-jangan buku tersebut memang tidak cocok buat kita dan harus diganti dengan buku yang lain.
Mengapa
motivasi penting dalam membaca? Nantinya ketika kita mulai membaca teks yang panjang, motivasi
inilah yang akan mempertahankan stamina kita dan memberi kekuatan untuk terus membaca
sampai selesai karena ingin mengetahui dan memahami isinya. Tanpa motivasi
mungkin ada bisa membaca sampai beberapa halaman, tapi setelah itu segera bosan
dan malas meneruskannya.
Motivasi
menjadi pendukung konsentrasi dan saling bantu membantu dalam menciptakan
pemahaman yang utuh baik secara nalar maupun emosional. Jika kita memiliki otak yang cemerlang dan
konsentrasi yang tinggi, mungkin kita
bisa memahami materi dengan mudah. Akan tetapi, motivasi-lah yang membantu
untuk mempertahankan pemahaman tersebut dalam jangka panjang karena motivasi
melibatkan emosi dan keinginan untuk menikmati suatu bahan bacaan.
3. Khawatir Tidak Memahami Bahan Bacaan
Ada
orang yang minder duluan ketika baru melihat buku yang hendak dibaca. Dia
khawatir bahwa buku tersebut terlalu berat dan nanti tidak bisa dipahami. Rasa
khawatir ini ternyata akan menjadi kenyataan jika kita terus membawanya ketika membaca.
Kekhawatiran bahwa kita tidak bisa atau
sulit memahami isi bacaan akhirnya akan benar-benar menjadi kenyataan.
Untuk
itu singkirkan semua kekhawatiran tersebut. Yakinkan pada diri kita bahwa meskipun buku yang hendak dibaca
mungkin cukup sulit, bukan berarti kita
tidak bisa memahaminya. Batu yang keras sekalipun akan berlubang oleh tetesan
air yang terus menerus.
Rasa
khawatir ini paling sering jika membaca buku pelajaran terutama pada saat
menjelang ujian. Ada perasaan waktu kita
cukup terbatas, kita kurang memiliki
pengetahuan, soal yang ditanyakan mungkin sangat beragam dan kita harus menguasai satu buku secara penuh
untuk memahaminya. Kekhawatiran ini akan mengganggu kecepatan baca maupun
pemahaman kita.
Jika kita adalah seorang pelajar atau mahasiswa,
maka saya sarankan, secara rutin bacalah buku teks yang diwajibkan jauh-jauh
hari sebelum ujian. Dengan demikian rasa khawatir tidak memahami akan hilang
dan kita dapat membacanya jauh lebih
rileks dan nyaman. Ketika ujian sudah menjelang, kita tinggal mengulang sedikit poin-poin
penting untuk memastikan topik tersebut masih dikuasai tanpa perlu membaca lagi
keseluruhan buku.
4. Kebiasaan-Kebiasaan Buruk Dalam Membaca
a. Regresi
(Pengulangan ke belakang)
Pernahkah kita membaca suatu kalimat atau paragraf
kemudian tidak yakin dengan isinya atau merasa kurang paham kemudian kita balik lagi dan mengulang kalimat atau
paragraf tersebut. Bayangkan jika dalam satu halaman saja kita melakukannya 10-15 kali, berapa banyak
waktu yang telah terbuang.
Untuk
mulai membaca cepat, maka kita juga
harus menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk di atas. Adapun cara untuk
melatih menghilangkan kebiasaan buruk tersebut akan saya jelaskan pada posting
selanjutnya. Silakan terus mengikuti.
b. Vokalisasi
Vokalisasi atau membaca dengan bersuara adalah sangat
memperlambat membaca, karena hal itu berarti mengucapkan kata demi kata dengan
lengkap. Menggumam, sekalipun dengan mulut terkatup dan suara tidak terdengar, jelas
termasuk membaca dengan bersuara.
c. Gerakan bibir
Menggerakkan bibir atau komat-kamit saat membaca,
sekalipun tidak mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara.
Kecepatan membaca bersuara ataupun dengan gerakan bibir hanya seperempat dari
kecepatan membaca secara diam.
d. Gerakan kepala
Semasa kanak-kanak penglihatan kita masih sulit menguasai seluruh penampang
bacaan. Akibatnya adalah kita
menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untuk dapat membaca garis-garis bacaan
secara lengkap. Setelah dewasa, penglihatan kita telah mampu secara optimal sehingga
seharusnya cukup mata saja yang bergerak.
e.
Menunjuk dengan jari
Semasa baru belajar membaca kita harus mengucapkan kata demi kata apa yang
kita baca. Untuk menjaga agar tidak ada
kata yang terlewati maka diperlukan bantuan jari atau pensil untuk menunjuk
kata demi kata. Cara membaca seperti ini sangat menghambat membaca sebab
gerakan tangan lebih lambat daripada gerakan mata.
Dari beberapa kebiasaan buruk diatas, maka jika kita ingin agar mendapatkan hasil yang maksimal dari kegiatan membaca kita, maka kita harus menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut, dan ini kembali lagi pada motivasi yang kita tanamkan dalam diri kita dalam membaca.
A. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca
Banyak faktor yang mempengaruhi
kemampuan membaca, baik membaca permasalahan maupun membaca lanjut (membaca
pemahaman). Faktor-faktor yang mempengaruhi membaca menurut Lamb dan Arnol
(Rahim Farida 2007: 6) ada 3 (tiga) yaitu; “ a) Faktor psikologi, b) faktor
intelektual, dan c) faktor lingkungan ‘’. Ketiga pendapat tersebut dapat
diuraikan sebagi berikut :
a. Faktor
Fisiologis
Mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan jenis
kelamin. Beberapa ahli mengemukakan bahwa keterbelakangan neurologis (misalnya
berbagai cacat otak) dan kekurangan matang secara fisik merupakan salah satu
faktor yang dapat menyebabkan anak gagal dalam meningkatkan kemampuan membaca
pemahaman mereka.
b. Faktor
Intelektual
Istilah intelegensi didefinisikan sebagai suatu kegiatan berfikir
yang terdiri dari pemahaman yang esensial tentang situasi yang diberikan dan
meresponnya secara tepat. Secara umum ada hubungan antara kecerdasan yang
diindikasikan oleh IQ dengan rata-rata peningkatan remedial membaca. Tingkatan
intelegensi membaca itu sendiri pada hakikatnya proses berfikir dan memecahkan
masalah. Dua orang yang berbeda IQnya sudah pasti akan berbeda hasil dan
kemampuan membacanya.
c. Faktor
Lingkungan
Faktor lingkungan ikut mempengaruhi kemajuan kemampuan membaca
murid. Seperti lingkungan keluarga dan masyarakat.
B. Sikap, Sifat, dan Watak Peserta Didik yang
Tidak Gemar Membaca
1. Pengertian
sikap
Salah
satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah sikap. Menurut Slamet
(2010: 188) sikap merupakan sesuatu yang dipelajari, dan sikap menentukan
bagaimana individu bereaksi
terhadap
situasi serta menentukan apa yang dicari individu dalam hidup. Sikap mengandung
tiga komponen, yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen tingkah
laku.
Sikap terbentuk melalui macam-macam cara menurut Slameto (2010: 188)
antara lain:
Melalui pengalaman yang berulang-ulang, atau
dapat pula melalui suatu pengalaman yang disertai perasaan yang mendalam
(pengalaman traumatik).
Melalui imitasi,
Peniruan dapat terjadi
tanpa disengaja, dapat pula dengan sengaja. Dalam terakhir individu harus
mempunyai minat dan rasa kagum terhadap mode, disamping itu diperlukan pula
pemahaman dan kemampuan untuk mengenal dan mengingat model yang hendak ditiru.
Melalui sugesti,
Di sini seseorang
membentuk suatu sikap terhadap objek tanpa suatu alasan dan pemikiran yang
jelas, tapi semata-mata karena pengaruh yang datang dari seseorang atau sesuatu
yang mempunyai wibawa dalam pandangannya.
Melalui identifikasi,
Di sini seseoarang meniru
orang lain atau suatu organisasi/badan tertentu didasari suatu keterikatan
emosional sifatnya; meniru dalam hal ini lebih banyak dalam arti berusaha
menyamai.
2. Sikap
Gemar dan tidak Gemar membaca
Gemar
artinya suka, senang sekali. Sementara minat dalam kamus besar bahasa Indonesia
(prasetyono, 2008: 51) yaitu kata minat memiliki arti “kesukaan (kecenderungan
hati) kepada sesuatu, keinginan”. Jadi harus ada sesuatu yang ditimbulkan, baik
dalam dirinya maupun dari luar untuk menyukai sesuatu. Hal ini menjadi landasan
penting untuk mencapai keberhasilan suatu pekerjaan karena dengan adanya minat,
seseorang menjadi termotivasi dan tertarik untuk melakukan sesuatu yang
disenanginya.
Menurut
Suyadi (2013: 9) gemar membaca adalah kebiasaan dengan tanpa paksaan untuk
menyediakan waktu secara khusus guna membaca berbagai informasi, baik buku,
jurnal, majalah, koran, dan sebagainya, sehingga menimbulkan kebijakan bagi
dirinya. Menurut Yaumi (2014: 60) gemar membaca adalah kebiasaan menyediakan
waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebijakan bagi dirinya.
Berdasarkan
pernyataan di atas peneliti menyimpulkan sikap tidak gemar membaca adalah ketidaksukaan
akan membaca dan kecenderungan hati untuk menghindari bacaan.
3. Indikator
sikap gemar dan tidak gemar membaca
Indikator
sikap gemar membaca untuk kelas empat sampai kelas enam SD menurut Daryanto dan
Darmiatun (2013: 149), yaitu:
Membaca buku dan tulisan yang terkait dengan
mata pelajaran
Mencari bahan bacaan dari perpustakaan daerah
Membaca buku novel dan cerita pendek
Membaca buku atau tulisan tentang alam, sosial,
budaya, seni, dan teknologi.
Dari indikator sikap gemar membaca diatas, peneliti simpulkan bahwa
sikap tidak gemar membaca adalah kebalikan dari sikap gemar membaca,
diantaranya yaitu:
1. Sering menghindari
hal-hal yang berbau dengan bacaan atau tulisan
2. Sering tidak fokus saat
membaca, merasa gelisah saat membaca
3. Tidak suka membaca
buku-buku
4. Terlalu banyak bergerak
atau hiperaktif
5. Memiliki gangguan fisik
atau non fisik dalam membaca
6. Adanya pengaruh negatif
baik karena faktor fisiologi, intelektual maupun pengaruh lingkungan.
C. Perkembangan
peserta didik dalam melestarikan budaya membaca
Untuk mengetahui perkembangan peserta didik
dalam melestarikan budaya membaca bisa dilakukan pengamatan langsung maupun
tidak langsung. Pengamatan langsung bisa dilakukan di sekolah, sedangkan
pengamatan tidak langsung bisa diketahui dengan bertanya pada pihak-pihak yang
mengetahui kegiatan peserta didik di luar sekolah.
Bagi seorang guru dapat mengamatinya langsung
kegiatan membaca siswa di sekolah adalah adanya perkembangan budaya membaca sebagai
berikut :
1. Meningkatnya jumlah pengunjung perpustakaan
sekolah
2. Tugas pelajaran untuk mencari literatur lain
diluar bahan bacan yang tersedia di sekolah diselesaikan dengan baik oleh
peserta didik
3. Siswa tertib dan teratur dalam sikap perilaku
sesuai dengan tulisan, gambar rambu-rambu
atau petunjuk-petunjuk tertulis lainnya yang terpampang disekolah
4. Peserta didik gemar membaca tulisan apapun
yang ada dilingkungan sekolah seperti brosur-brosur, tulisan pada papan
pengumuman dan lain-lain.
5. Peserta didik dapat menggunakan bahan bacaan
lain yang dapat menunjang pelajaran dengan baik
6. Siswa dapat memahami dengan baik
prosedur-prosedur yang tertulis
D. Kesulitan belajar peserta didik dalam menunjang
kecepatan membaca
Faktor Penghambat Belajar
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses
belajar anak dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Kedua
faktor tersebutlah yang mempengaruhi hasil belajar anak. Berikut akan diuraikan
tentang kedua faktor penghambat belajar.
Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari
dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor
internal meliputi faktor fisiologis dan biologis serta faktor psikologis.
Faktor fisiologis dan
biologis
Masa peka merupakan masa mulai berfungsinya factor fisiologis pada tubuh
manusia. Faktor fisiologis adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik
individu. Faktor ini dibedakan menjadi 2, yaitu:
– Keadaan tonus
jasmani
Keadaan tonus jasmani sangat mempengaruhi aktivitas belajar anak. Kondisi
fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap proses
belajar. Sedangkan kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat
tercapainya hasil belajar yang maksimal.
– Keadaan
fungsi jasmani atau fisiologis
Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada anak sangat
mempengaruhi hasil belajar, terutama panca indera. Panca indera yang berfungsi
dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar.
Anak yang memiliki kecacatan fisik (panca indera atau fisik) tidak akan
dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Meskipun juga ada anak yang
memiliki kecacatan fisik namun nilai akademiknya memuaskan. Kecacatan yang
diderita anak akan mempengaruhi psikologisnya, diantaranya:
– Sulit bergaul karena memiliki perasaan malu dan
minder akan kekurangannya,
– Ada perasaan takut diejek teman,
– Merasa tidak sempurna dibandingkan dengan
teman-teman lain.
Perasaan yang menghantui anak dapat membuat
prestasinya menurun. Namun ada juga anak yang menjadikan kekurangannya sebagai
motivasi untuk maju. Cacat fisik membuat anak tidak dapat malakukan aktivitas
belajar di sekolah dengan baik, sehingga perlu disediakan sekolah yang bisa
menampungnya sesuai dengan cacat yang disandang. Misalnya bagi penyandang tuna
netra bersekolah di SLBA, tuna rungu bersekolah di SLBB, dan sebagainya.
2. Faktor
psikologis
Faktor psikologis adalah faktor yang berasal dari
keadaan psikologis anak yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor
psikologis utama yang mempengaruhi proses belajar anak adalah kecerdasan siswa,
motivasi, minat, sikap dan bakat.
– Kecerdasan/ intelegensi siswa
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan
psiko-fisik dalam mereaksikan rangsangan atau menyesuaikan diri dengan
lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya
berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ tubuh lainnya. Namun
bila dikaitan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting
dibandingkan dengan organ lain, karena fungsi otak itu sebagai organ pengendali
tertinggi dari seluruh aktivitas manusia.
Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling
penting dalam proses belajar anak, karena menentukan kualitas belajar
siswa. Semakin tinggi intelegensi seorang individu, semakin besar peluang
individu untuk meraih sukses dalam belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan
belajar dari orang lain seperti orang tua, guru,dan sebagainya. Sebagai faktor
psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan
pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru
professional, sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasannya.
– Motivasi
Motivasi adalah salah
satu factor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasi yang
mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi
mendefisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif,
mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994).
Motivasi diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap
intensitas dan perilaku seseorang.
Keseluruhan daya
penggerak psikis dalam diri anak yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin
kelangsungan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai
motivasi belajar. Dari sumbernya motivasi dibedakan menjadi: motivasi
ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik adalah semua fat
Faktor yang berasal
dari dalam individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Dalam
proses belajar, motivasi intrinsik relatif lebih lama dan tidak tergantung pada
motivasi dari luar (ekstrinsik).
Menurut Arden N.
frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar
antara lain:
Dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas
Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan kegiatan untuk
maju.
Adanya keinginan untuk mancapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari
orang-orang penting. Misalnya: orang tua, saudara, guru, teman, dan sebagainya.
Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi
diri sendiri dan orang lain.
Motivasi ekstrinsik
adalah anak memulai dan meneruskan kegiatan belajar berdasarkan kebutuhan dan
dorongan yang tidak secara mutlak berkaian dengan kegiatan belajar itu sendiri.
Yang tergolong bentuk motivasi belajar ekstrinsik antara lain:
Balajar demi memenuhi kewajiban.
Menghindari hukuman.
Memperoleh hadiah material yang telah dijanjikan oleh orang tua.
Meningkatkan gengsi dari orang lain.
Memperoleh pujian dari orang lain.
Tuntutan jabatan yang diinginkan.
Bentuk motivasi belajar
intrinsik dapat ditingkatkan menjadi motivasi berprestasi, yaitu daya penggerak
dalam diri siswa untuk mencapai taraf prestasi belajar yang setinggi mungkin,
demi penghargaan kepada diri sendiri. Jadi hasrat berprestasi tinggi bukan
menurut ukuran dan pandangan sendiri.
– Minat
Secara sederhana minat
merupakan kecenderungan kegairahan yang tinggi atau besar terhadap sesuatu.
Menurut Reber (Syah, 2003) minat bukanlah istilah yang populer dalam psikologi
karena disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya,
seperti pemusatan perhatian, keinginan, motivasi, dan kebutuhan.
Namun lepas dari
kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena
memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, ia akan tidak bersemangat atau
bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas,
seorang guru atau pendidik perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik
terhadap materi pelajaran yang akan disampaikan dengan cara.
> Membuat menarik materi
Materi bisa dibuat
menarik melalui bentuk buku materi, desain pembelajaran, melibatkan seluruh
domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga siswa menjadi
aktif, dan guru juga harus memperhatikan performansi saat mengajar.
> Pemilihan jurusan atau bidang sekolah
Pemilihan sebaiknya diserahkan pada siswa, sesuai dengan minatnya.
– Sikap
Dalam proses belajar
sikap dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajar. Sikap adalah gejala
internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau
merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan
sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Shay,2003).
Sikap siswa dalam
belajar dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru,
pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap
yang negatif dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang
profesional dan bertanggungjawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan
profesionalitas seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi
siswanya, berusaha mengembang kepribadian sebagai seorang guru yang empatik,
sabar, dan tulus kepada muridnya, berusaha untuk menyajikan pelajaran yang
diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti
pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan, meyakinkan siswa bahwa bidang
studi yang dipelajarinya bermanfaat bagi siswa.
– Bakat
Faktor psikologis lain
yang mempengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum bakat didefisikan
sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan
pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaian dengan belajar, Slavin(1994)
mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seseorang siswa untuk
belajar. Dengan demikian bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah satu
komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat
seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan
mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.
Pada dasarnya setiap
orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai
dengan kemampuannya masing-masing. Karena itu bakat juga diartikan sebagai
kemampuan dasar individu untuk melakuakan tugas tertentu tanpa tergantung upaya
pendidikan dan latihan. Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan
lebih mudah menyerap informasi yang berhubungan dengan bakat yang dimilikinya.
Misalnya siswa yang berbakat dibidang bahasa akan lebih mudah mempelajari
bahasa-bahasa yang lain selain bahasanya sendiri.
Selain itu yang menjadi
faktor psikologis lainnya adalah disiplin. Disiplin diri adalah kemampuan diri
yang kuat untuk mempertahankan diri dari bermacam-macam gangguan dalam belajar.
Misal, seorang anak akan tetap belajar walaupun ada acara televisi yang
menarik.
Faktor Eksternal
Selain faktor internal,
faktor eksternal juga dapat mempengaruhi proses belajar anak. Faktor eksternal
yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi faktor lingkungan sosial
dan non-sosial (Syah, 2003):
Lingkungan sosial
Lingkungan sosial anak
dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar. Linkungan sosial dibagi
manjadi tiga, yaitu:
Lingkungan sosial sekolah
Pendidikan di sekolah
bukan sekedar bertujuan untuk melatih siswa supaya “siap pakai” untuk kerja
atau mampu meneruskan ke jenjang pendidikan berikutnya atau mencapai angka
rapor, melainkan untuk membentuk peserta didik manjadi manusia sejati. Proses
pembentukan manusia sejati sudah mulai sejak anak hidup dalam keluarga,
kemudian dilanjutkan di sekolah, di masyarakat, di dunia kerja dan di
lingkungan sekitar.
1. Di sekolah
Di sekolah, untuk
membentuk manusia sejati ada salah satu harapan dari pendidik yaitu Self
Regulated Learner (SRL). SLR adalah murid-murid yang memiliki kemampuan belajar
tinggi dan disiplin sehingga mereka membuat belajar itu lebih mudah dan
menyenangkan. Namun harapan itu tidak akan terwujud jika lingkungan sekolah
seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas tidak mendukung.
Faktor-faktor yang dapat menghambat anak belajar di sekolah adalah:
Metode mengajar
Dalam mengajar guru
memerlukan metode yang cocok. Metode ini dimaksudkan agar materi yang
disampaikan oleh guru terasa menarik dan siswa mudah menyerapnya.
Kurikulum
Kurikulum yang
kurang tepat dapat menjadi salah satu faktor yang dapat menimbulkan kesukaran
belajar. Kurikulum sangat penting dan selalu ada dalam sebuah instansi
pendidikan. Kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan
psikologi anak.
Penerapan disiplin
Disiplin dalam sebuah
sekolah sangat diperlukan untuk meengontrol kegiatan siswa di sekolah. Namun
kedisiplinan yang terlalu ketat akan membuat siswa merasa terkekang dan merasa
ruang geraknya dibatasi.
Hubungan siswa dengan
guru maupun teman
Suasana sebuah kelas
didukung oleh peran guru dan anggota kelas. Jika suasana kelas tidak mendukung,
maka dapat menghambat proses belajar anak. Hubungan siswa dengan guru, siswa
dengan teman juga perlu dibangun sedemikian rupa sehingga tercipta suasana yang
baik dan nyaman bagi siswa, sehingga mereka betah menjadi bagian dari kelas.
Tugas rumah yang
terlalu banyak
Guru memberikan tugas
untuk siswa merupakan hal yang wajar. Tetapi siswa akan merasa jenuh dengan
tugas yang terlalu banyak. Bagi sebagian siswa tugas merupakan beban. Hal
seperti inilah yang akan menghambat proses belajar anak.
Sarana dan prasarana
Keberhasilan belajar
anak juga didukung oleh sarana dan prasarana yang ada. Sarana dan prasarana
yang memadai juga membantu tercapainya hasil belajar yang maksimal.
2. Lingkungan sosial masyarakat
Kondisi lingkungan
masyarakat tempat tinggal siswa juga mempengaruhi proses belajar anak.
Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran, dan banyak teman sebaya di
lingkungan yang tidak sekolah dapat menjadi faktor yang menimbulkan kesukaran
belajar bagi siswa. Misalnya siswa tidak memiliki teman belajar dan diskusi
maka akan merasa kesulitan saat akan meminjam buku atau alat belajar yang lain.
3. Lingkungan
keluarga
Keluarga merupakan
tempat pertama kali anak belajar. Oleh karena itu, lingkungan keluarga sangat
mempengaruhi proses belajar anak. Faktor dari keluarga yang dapat menimbulkan
permasalahan belajar anak adalah:
Pola asuh orang tua
Setiap orang memiliki
pola atau cara yang berbeda dalam mendidik anak. Pola asuh yang selalu
mengekang anak akan membuat anak sulit dan bahkan tidak dapat mengembangkan
kemampuan dan bakat yang dimiliki.
Hubungan orang tua dan
anak
Hubungan yang tidak
harmonis antara orang tua dan anak akan membuat anak tidak betah di rumah.
Dengan begitu anak tidak akan bisa melaksanakan aktivitas belajarnya dengan
baik.
Keadaan ekonomi
keluarga
Meskipun tidak mutlak,
perekonomian keluarga dapat menjadi salah satu penghambat anak. Ada kemungkinan
anak menjadi minder dan malu bergaul dengan teman karena masalah ekonomi
keluarganya. Dengan perasaan minder anak akan mudah tersinggung, kecil hati,
dan sebagainya. Akhirnya hal tersebut akan mempengaruhi hasil belajar anak.
Keharmonisan keluarga
Keluarga yang tidak
harmonis akan memberi dampak negatif pada anak dalam belajar. Pertikaian atau
cek-cok ayah dan ibu akan membuat anak merasa terbebani sehingga anak menjadi
kurang semangat dalam belajar.
Kondisi rumah
Kondisi rumah yang
kurang memadai akan membuat anak kesukaran dalam belajar. Letak rumah juga
berpengaruh pada proses belajar anak. Rumah yang terlalu dekat dengan jalan
raya kurang efektif untuk belajar anak.
Teman sebaya
Teman sebaya dapat
mempengaruhi proses belajar anak, baik teman sebaya dalam lingkup sekolah
maupun tempat tinggal atau masyarakat. Pada usia anak-anak dan remaja, jiwa
yang dimiliki masih labil, emosional, pemarah, dan juga rasa egois sangat
besar. Biasanya tejadi kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh teman sebaya
atau kawan bermain. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan atau bahkan
persaingan yang menimbulkan sikap saling mengejek, mendorong, memukul bahkan
kekerasan verbal.
Kekerasan sebagai
gangguan emosi pada dasarnya tidak hanya menyerang orang lain, tetapi juga
menyerang diri sendiri. Persoalan kekerasan dilihat dari lapangan psikologi
pendidikan mencoba mengarahkan pada lingkungan sekolahtempat anak belajar
berinteraksi dengan teman sebaya.
Interaksi sosial yang
tidak sehat antar teman sebaya di sekolah dipengaruhi faktor lingkungan dari
luar yang dibawa ke sekolah oleh peserta didik yang berujung pada tindakan
kekerasan. Belajar yang tidak menyenangkan juga membuat anak merasa tertekan
dan bertindak nakal. Sebenarnya kekerasan yang terjadi di kalangan siswa
dibentuk dari pengalaman-pengalaman lama.
Teman sebaya yang
seharusnya bisa untuk memperoleh informasi dan perbandingan tentang dunia
sosisal, prinsip keadilan malalui konflik yang terjadi dengan teman, bisa untuk
belajar tentang konsep gender juga dapat berpengaruh negatif bagi anak.
Misalnya kebiasaan-kebiasaan buruk yang dimiliki kawan sebayanya akan mudah
mempengaruhi diri anak. Kebiasaan buruk yang mudah ditiru biasanya dari ucapan
atau tindakan.
Lingkungan non-sosisal
Faktor yang termasuk lingkungan non-sosial adalah
Lingkungan alamiah
Yang dimaksud dengan
lingkungan alamiah adalah kondisi yang segar, tidak panas dan tidak dingin,
sinar tidak terlalu silau, tidak terlalu gelap, dan tenang.
– Instrumental
Instrumental dapat digolongkan dua macam:
Hardware
Yang termasuk perangkat hard ware adalah gedung sekolah, alat, fasilitas,
sarana prasarana belajar, dan sebagainya.
Software
Yang termasuk perangkat software dalam pendidikan adalah kurikulum sekolah,
peraturan, buku panduan, silabus, dan sebagainya.
Cara Mengatasi Hambatan Belajar
Saat timbul hambatan
dalam belajar, hambatan tersebut harus segera diatasi. Dengan diatasi hambatan
tersebut maka proses belajar dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai
hasil belajarr yang maksimal. Cara mengatasi hambatan belajar dapat di mulai
dari diri anak, keluarga, dan sekolah.
Diri anak
1. Menjaga kesehatan jasmani.
2. Menumbuhkan rasa percaya diri.
3. Membangun motivasi diri.
4. Belajar berinteraksi dengan lingkungan.
5. Belajar menjaga emosi.
6. Menerima keadaan (ekonomi, jasmani,dll).
Keluarga
1. Memberi
teladan dalam sikap dan tingkah laku kepada anak.
2. Menjaga
keharmonisan keluarga.
3. Menyediakan
waktu untuk mendampingi anak dalam belajar
4. Megusahakan
kesehatan anak, misalnya dengan makanan bergizi.
5. Melatih
anak dengan mengerjakan pekerjaan rumah (menyapu, mencuci piring, dll).
6. Meminimalkan
untuk membandingkan anak dengan anak yang lain.
7. Mencukupi
fasilitas dan saran prasarana belajar.
8. Mambangun
dan memberi motivasi anak.
Sekolah
1. Guru
mangendalikan diri (emosi) saat mengajar.
2. Guru
menjaga kedekatan dengan siswa maupun orangtua siswa.
3. Guru
bersikap adil pada semua siswa.
4. Guru
memberikan motivasi siswa, misalnya dengan pujian, dan sebagainya.
5. Guru memberikan teladan yang baik pada siswa.
6. Guru
mengajar dengan menggunakan metode yang menyenangkan.
7. Guru melihat
kelemahan masing-masing siswa, misalnya ada siswa yang cacat fisik letak posisi
duduk di depan.
8. Guru
mamberi tugas sesuai dengan kemampuan siswa.
9.
Lingkungan yang nyaman untuk belajar siswa.
10. Memberikan kelonggaran tata tertib, namun tetap disiplin
DAFTAR
PUSTAKA
Elle.2006.
“PQ3R”. http//www.myellaa.blogspot.com. Diakses tanggal 13 November
2018
Hairuddin,
dkk.2008. Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta : Dirjen Dikti
dan Depdikbud
This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.
You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.
Why do this?
Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.
The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.
To help you get started, here are a few questions:
Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
What topics do you think you’ll write about?
Who would you love to connect with via your blog?
If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?
You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.
Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.
When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.