Featured

My First Blog Post

Be yourself; Everyone else is already taken.

— Oscar Wilde.

Selamat Datang

di blog Ahmad Maskuri

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh..

Selamat datang di blog sederhana saya.

Sebagai bagian dari ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, tak salah jika kita senantiasa berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ilmu yang kita amalkan tidaklah akan sia-sia, melainkan akan senantiasa bermanfaat terutama bagi diri sendiri dan umumnya untuk orang lain. Untuk itu saya mecoba berbagi pengetahuan dan pengalaman saya melalui media blog ini, dengan harapan apa-apa yang baik dapat dimanfaatkan oleh para pembaca yang budiman.

Saya akan berusaha menyajikan artikel-artikel berkaitan dengan Pendidikan, terutama sesuai dengan bidang saya sebagai mahasiswa di Universitas Peradaban Bumiayu jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Namuan tak hanya itu, insyaAllah saya juga akan menyajikan artikel-artikel lainnya seperti Bahasa Jawa, kegiatan siswa, percobaan elektronika dan lain-lain. Hal ini agar pembaca sekalian tidak bosan dan monoton hanya dengan artikel-artikel pendidikan.

Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan, agar saya dapat terus memperbaiki diri dan kualitas artikel dalam blog ini. Silahkan kepada pembaca bisa meninggalkan komentar pada kolom komentar yang tersedia, jangan lupa subscribe dan aktifkan notifikasi dari blog saya ini.

Akhirul kalam,

Wabillahittaufiq walhidayah,

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh…

Faktor-faktor Membaca

A.      Pengertian Membaca

Terdapat  beberapa  pengertian  membaca  menurut  para  ahli  seperti berikut.

Anderson dalam Tarigan (2008, hlm.7) berpendapat bahwa:

Membaca adalah suatu preses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding presess), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding).Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tertulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning) yangmencakup pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna.

Hodgson (Tarigan, 2008, hlm.7) menjelaskan bahwa:

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu p kitangan sekilas dan makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.

Finochiaro dan Bonomo dalam Tarigan (2008, hlm.7) menjelaskan

bahwa  Reading  adalah  bringing  meaning  to  and  getting  meaning  from printed ow written material, memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tertulis.

Dari     ketiga  definisi            yang   telah    dipaparkan diatas dapat ditarik kesimpulan   bahwa membaca            adalah  proses  pemahaman tulisan untuk mendapatkan pesan atau makna dari sebuah tulisan.

B.        Kendala-kendala dalam Membaca dan Cara Mengatasinya

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pemahaman menurut Farida Rahim (2008: 16) yaitu faktor fisiologis, intelektual, lingkungan dan psikologis. Faktor fisiologis mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, jenis kelamin, dan kelelahan. Gangguan alat bicara, alat pendengaran, dan alat penglihatan juga dapat memperlambat kemajuan belajar anak. Secara umum ada hubungan positif antara kecerdasan dengan kemampuan membaca. Namun tidak semua siswa yang memiliki intelegensi tinggi mampu menjadi pembaca yang baik. Faktor lingkungan dapat berupa latar belakang anak di rumah dan faktor sosial ekonomi.

Menurut Soedarso (2006: 5) yang menjadi penghambat membaca cepat antara lain : Vokalisasi, gerakan bibir, gerakan kepala, menunjuk dengan jari

Hambatan atau kendala seseorang dalam membaca akan mengurangi efektifitasnya dalam membaca. Hal ini tentu akan berakibat pada hasil dari kita membaca.

1. Sulit Konsentrasi

Kesulitan konsentrasi bisa disebabkan beberapa faktor diantaranya: kelelahan fisik dan mental, bosan, atau banyak hal lain yang sedang dipikirkan. Konsentrasi juga dapat terganggu dengan adanya hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian seperti suara musik yang keras, TV yang menyala, orang lalu-lalang, dan lain-lain.

Kesulitan konsentrasi membuat pikiran melayang entah ke mana dan huruf-huruf yang dibaca pun ikut menguap terbang. Dalam membaca konsentrasi sangat penting karena menentukan kemampuan  kita menangkap dan memahami isi bacaan. Apalagi ketika  kita membaca cepat, maka konsentrasi yang baik akan memastikan bahwa kecepatan baca berbanding lurus dengan pemahaman dan bukan sebaliknya.

Untuk itu ketika mulai membaca, coba atasi faktor-faktor yang menyebabkan  kita sulit berkonsentrasi. Cari tempat yang tenang, memiliki penerangan yang cukup, suhu ruangan yang nyaman, dan tempat duduk yang enak dipakai. Jika ada gangguan, selesaikan dulu sebelum  kita mulai membaca.

Setelah hal di atas dilakukan, selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan konsentrasi itu sendiri. Dalam membaca cepat konsentrasi yang dibutuhkan adalah kerjasama antara mata dan otak di mana mata bekerja menangkap kata dengan cepat dan otak menerjemahkan, mengomentari, dan memahami kata demi kata yang ditangkap.

Latihan Memusatkan Konsentrasi:

Ada dua buah latihan memusatkan konsentrasi yang cukup baik yang penulis temukan di buku karya Soedarso, Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Dua latihan tersebut dikutip dari Chung Moo Il, Membaca Dinamis (Cepat) berupa mengurai benang kusut dan menghitung titik. Ternyata latihan ini tidak mudah dan kalau  kita belum terbiasa, mata dapat berair dan cukup tegang. Berikut saya adaptasi latihan tersebut untuk  kita.

Perhatikan gambar benang kusut berikut.  kita akan mulai dari bagian awal sesuai petunjuk anak panah dan mengikuti jalur benang kusut tersebut sampai berakhir. Dalam latihan ini  kita tidak boleh menggunakan alat bantu seperti jari atau pensil untuk memudahkan penelusuran. Gunakan mata  kita dan rasakan otot-otok mata yang bekerja sambil mempertahankan konsentrasi agar jalur benang tidak tersesat.

Apa yang  kita rasakan? Sebagian orang melakukannya dengan perlahan dan di tengah-tengah konsentrasi menjadi buyar. Sebagian yang lain masih terus dapat mengikuti dengan cepat. Ada orang yang dapat melakukan dengan sangat cepat tanpa tersesat.

Bagaimana rahasianya? Ketika  kita mulai menelusuri, mata  kita sebenarnya sudah menangkap sampai panjang tertentu di mana benang tersebut terhubung. Segera pindah ke bagian tersebut dan tangkap lagi bagian terjauh yang dikenali mata  kita. Demikian seterusnya sampai selesai.

Hal seperti ini nantinya akan  kita lakukan dalam baca cepat di mana ketika melihat sekumpulan huruf, otak  kita sudah bisa mengenali kata dan ketika  kita melihat dengan jangkauan lebih luas, otak  kita sudah mengenali frasa dan bahkan kelompok kata yang lebih besar.

Ingin tantangan berikutnya? Silakan hitung jumlah titik-titik horizontal berikut ini baik yang besar maupun yang kecil. Peraturan yang sama tetap berlaku: dilarang menggunakan jari, pensil atau alat bantu hitung lainnya. Gunakan hanya mata dan otak  kita.

Apa yang  kita rasakan? Saya yakin jika belum terbiasa mata  kita akan cukup lelah dan seperti ada otot yang ditarik-tarik. Tidak mengapa, hal tersebut pert kita baik karena  kita mulai mengaktifkan otot-otot mata dengan lebih intensif. Nantinya dalam tulisan berikutnya  kita akan belajar senam mata untuk melatih kecepatan dan irama pergerakannya.

2. Rendahnya Motivasi

Hambatan berikutnya dalam membaca adalah motivasi. Gangguan ini terutama dialami mahasiswa ketika harus membaca text book tebal yang tidak disukai. Rendahnya motivasi akan muncul ketika  kita hendak membaca suatu buku tapi tidak terlalu tahu buku tersebut tentang apa. Maka  kita akan cenderung membaca sekedarnya saja dan tidak terlalu berminat untuk membaca dengan pemahaman yang baik.

Bagaimana mengatasi motivasi ini? Caranya adalah  kita harus menemukan jawaban mengapa  kita perlu membaca buku tersebut. Jika buku tersebut text book perkuliahan yang tebal dan membosankan, coba bayangkan apa yang menarik dari judulnya, topik-topik yang dibahas di dalamnya, dan apa yang bisa  kita aplikasikan jika menguasai buku tersebut. Jika buku tersebut sebuah biografi, coba bayangkat betapa hebatnya orang yang dibahas, apa yang telah dia lakukan akan dapat menjadi pelajaran bagi  kita. Jika buku tersebut adalah buku-buku self help atau Management, bayangkan apa yang akan terbantu jika  kita bisa menguasainya.

Jika telah berusaha sekuat tenaga dan tetap tidak memiliki motivasi untuk membaca sebuah buku tertentu, maka jangan-jangan buku tersebut memang tidak cocok buat  kita dan harus diganti dengan buku yang lain.

Mengapa motivasi penting dalam membaca? Nantinya ketika  kita mulai membaca teks yang panjang, motivasi inilah yang akan mempertahankan stamina  kita dan memberi kekuatan untuk terus membaca sampai selesai karena ingin mengetahui dan memahami isinya. Tanpa motivasi mungkin ada bisa membaca sampai beberapa halaman, tapi setelah itu segera bosan dan malas meneruskannya.

Motivasi menjadi pendukung konsentrasi dan saling bantu membantu dalam menciptakan pemahaman yang utuh baik secara nalar maupun emosional. Jika  kita memiliki otak yang cemerlang dan konsentrasi yang tinggi, mungkin  kita bisa memahami materi dengan mudah. Akan tetapi, motivasi-lah yang membantu untuk mempertahankan pemahaman tersebut dalam jangka panjang karena motivasi melibatkan emosi dan keinginan untuk menikmati suatu bahan bacaan.

3.    Khawatir Tidak Memahami Bahan Bacaan

Ada orang yang minder duluan ketika baru melihat buku yang hendak dibaca. Dia khawatir bahwa buku tersebut terlalu berat dan nanti tidak bisa dipahami. Rasa khawatir ini ternyata akan menjadi kenyataan jika  kita terus membawanya ketika membaca. Kekhawatiran bahwa  kita tidak bisa atau sulit memahami isi bacaan akhirnya akan benar-benar menjadi kenyataan.

Untuk itu singkirkan semua kekhawatiran tersebut. Yakinkan pada diri  kita bahwa meskipun buku yang hendak dibaca mungkin cukup sulit, bukan berarti  kita tidak bisa memahaminya. Batu yang keras sekalipun akan berlubang oleh tetesan air yang terus menerus.

Rasa khawatir ini paling sering jika membaca buku pelajaran terutama pada saat menjelang ujian. Ada perasaan waktu  kita cukup terbatas,  kita kurang memiliki pengetahuan, soal yang ditanyakan mungkin sangat beragam dan  kita harus menguasai satu buku secara penuh untuk memahaminya. Kekhawatiran ini akan mengganggu kecepatan baca maupun pemahaman  kita.

Jika  kita adalah seorang pelajar atau mahasiswa, maka saya sarankan, secara rutin bacalah buku teks yang diwajibkan jauh-jauh hari sebelum ujian. Dengan demikian rasa khawatir tidak memahami akan hilang dan  kita dapat membacanya jauh lebih rileks dan nyaman. Ketika ujian sudah menjelang,  kita tinggal mengulang sedikit poin-poin penting untuk memastikan topik tersebut masih dikuasai tanpa perlu membaca lagi keseluruhan buku.

4.    Kebiasaan-Kebiasaan Buruk Dalam Membaca

a. Regresi (Pengulangan ke belakang)

Pernahkah  kita membaca suatu kalimat atau paragraf kemudian tidak yakin dengan isinya atau merasa kurang paham kemudian  kita balik lagi dan mengulang kalimat atau paragraf tersebut. Bayangkan jika dalam satu halaman saja  kita melakukannya 10-15 kali, berapa banyak waktu yang telah terbuang.

Untuk mulai membaca cepat, maka  kita juga harus menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk di atas. Adapun cara untuk melatih menghilangkan kebiasaan buruk tersebut akan saya jelaskan pada posting selanjutnya. Silakan terus mengikuti.

b. Vokalisasi

Vokalisasi atau membaca dengan bersuara adalah sangat memperlambat membaca, karena hal itu berarti mengucapkan kata demi kata dengan lengkap. Menggumam, sekalipun dengan mulut terkatup dan suara tidak terdengar, jelas termasuk membaca dengan bersuara.


c. Gerakan bibir

Menggerakkan bibir atau komat-kamit saat membaca, sekalipun tidak mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara. Kecepatan membaca bersuara ataupun dengan gerakan bibir hanya seperempat dari kecepatan membaca secara diam. 

d. Gerakan kepala

Semasa kanak-kanak penglihatan  kita masih sulit menguasai seluruh penampang bacaan. Akibatnya adalah  kita menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untuk dapat membaca garis-garis bacaan secara lengkap. Setelah dewasa, penglihatan  kita telah mampu secara optimal sehingga seharusnya cukup mata saja yang bergerak. 

e. Menunjuk dengan jari

Semasa baru belajar membaca  kita harus mengucapkan kata demi kata apa yang  kita baca. Untuk menjaga agar tidak ada kata yang terlewati maka diperlukan bantuan jari atau pensil untuk menunjuk kata demi kata. Cara membaca seperti ini sangat menghambat membaca sebab gerakan tangan lebih lambat daripada gerakan mata.   

Dari beberapa kebiasaan buruk diatas, maka jika kita ingin agar mendapatkan hasil yang maksimal dari kegiatan membaca kita, maka kita harus menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut, dan ini kembali lagi pada motivasi yang kita tanamkan dalam diri kita dalam membaca.

Makalah : KAJIAN KEMAMPUAN MEMBACA SISWA dan PENGARUHNYA TERHADAP PRESTASI BELAJAR

A.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca

Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, baik membaca permasalahan maupun membaca lanjut (membaca pemahaman). Faktor-faktor yang mempengaruhi membaca menurut Lamb dan Arnol (Rahim Farida 2007: 6) ada 3 (tiga) yaitu; “ a) Faktor psikologi, b) faktor intelektual, dan c) faktor lingkungan ‘’. Ketiga pendapat tersebut dapat diuraikan sebagi berikut :

a.       Faktor Fisiologis

Mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan jenis kelamin. Beberapa ahli mengemukakan bahwa keterbelakangan neurologis (misalnya berbagai cacat otak) dan kekurangan matang secara fisik merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan anak gagal dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman mereka.

b.       Faktor Intelektual

Istilah intelegensi didefinisikan sebagai suatu kegiatan berfikir yang terdiri dari pemahaman yang esensial tentang situasi yang diberikan dan meresponnya secara tepat. Secara umum ada hubungan antara kecerdasan yang diindikasikan oleh IQ dengan rata-rata peningkatan remedial membaca. Tingkatan intelegensi membaca itu sendiri pada hakikatnya proses berfikir dan memecahkan masalah. Dua orang yang berbeda IQnya sudah pasti akan berbeda hasil dan kemampuan membacanya.

c.       Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan ikut mempengaruhi kemajuan kemampuan membaca murid. Seperti lingkungan keluarga dan masyarakat.

B.   Sikap, Sifat, dan Watak Peserta Didik yang Tidak Gemar Membaca

1. Pengertian sikap

Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah sikap. Menurut Slamet (2010: 188) sikap merupakan sesuatu yang dipelajari, dan sikap menentukan bagaimana individu bereaksi

terhadap situasi serta menentukan apa yang dicari individu dalam hidup. Sikap mengandung tiga komponen, yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen tingkah laku.

   Sikap   terbentuk         melalui macam-macam            cara menurut Slameto (2010: 188) antara lain:

  1. Melalui pengalaman yang berulang-ulang, atau dapat pula melalui suatu pengalaman yang disertai perasaan yang mendalam (pengalaman traumatik).
  2. Melalui imitasi,

Peniruan dapat terjadi tanpa disengaja, dapat pula dengan sengaja. Dalam terakhir individu harus mempunyai minat dan rasa kagum terhadap mode, disamping itu diperlukan pula pemahaman dan kemampuan untuk mengenal dan mengingat model yang hendak ditiru.

  • Melalui sugesti,

Di sini seseorang membentuk suatu sikap terhadap objek tanpa suatu alasan dan pemikiran yang jelas, tapi semata-mata karena pengaruh yang datang dari seseorang atau sesuatu yang mempunyai wibawa dalam pandangannya.

  • Melalui identifikasi,

Di sini seseoarang meniru orang lain atau suatu organisasi/badan tertentu didasari suatu keterikatan emosional sifatnya; meniru dalam hal ini lebih banyak dalam arti berusaha menyamai.

2.  Sikap Gemar dan tidak Gemar membaca

Gemar artinya suka, senang sekali. Sementara minat dalam kamus besar bahasa Indonesia (prasetyono, 2008: 51) yaitu kata minat memiliki arti “kesukaan (kecenderungan hati) kepada sesuatu, keinginan”. Jadi harus ada sesuatu yang ditimbulkan, baik dalam dirinya maupun dari luar untuk menyukai sesuatu. Hal ini menjadi landasan penting untuk mencapai keberhasilan suatu pekerjaan karena dengan adanya minat, seseorang menjadi termotivasi dan tertarik untuk melakukan sesuatu yang disenanginya.

Menurut Suyadi (2013: 9) gemar membaca adalah kebiasaan dengan tanpa paksaan untuk menyediakan waktu secara khusus guna membaca berbagai informasi, baik buku, jurnal, majalah, koran, dan sebagainya, sehingga menimbulkan kebijakan bagi dirinya. Menurut Yaumi (2014: 60) gemar membaca adalah kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebijakan bagi dirinya.

Berdasarkan pernyataan di atas peneliti menyimpulkan sikap tidak gemar membaca adalah ketidaksukaan akan membaca dan kecenderungan hati untuk menghindari bacaan.

3.  Indikator sikap gemar dan tidak gemar membaca

Indikator sikap gemar membaca untuk kelas empat sampai kelas enam SD menurut Daryanto dan Darmiatun (2013: 149), yaitu:

  1. Membaca buku dan tulisan yang terkait dengan mata pelajaran
    1. Mencari bahan bacaan dari perpustakaan daerah
    1. Membaca buku novel dan cerita pendek
    1. Membaca buku atau tulisan tentang alam, sosial, budaya, seni, dan teknologi.

Dari indikator sikap gemar membaca diatas, peneliti simpulkan bahwa sikap tidak gemar membaca adalah kebalikan dari sikap gemar membaca, diantaranya yaitu:

1.    Sering menghindari hal-hal yang berbau dengan bacaan atau tulisan

2.    Sering tidak fokus saat membaca, merasa gelisah saat membaca

3.    Tidak suka membaca buku-buku

4.    Terlalu banyak bergerak atau hiperaktif

5.    Memiliki gangguan fisik atau non fisik dalam membaca

6.    Adanya pengaruh negatif baik karena faktor fisiologi, intelektual maupun pengaruh lingkungan.

C.   Perkembangan peserta didik dalam melestarikan budaya membaca

Untuk mengetahui perkembangan peserta didik dalam melestarikan budaya membaca bisa dilakukan pengamatan langsung maupun tidak langsung. Pengamatan langsung bisa dilakukan di sekolah, sedangkan pengamatan tidak langsung bisa diketahui dengan bertanya pada pihak-pihak yang mengetahui kegiatan peserta didik di luar sekolah.

Bagi seorang guru dapat mengamatinya langsung kegiatan membaca siswa di sekolah adalah adanya perkembangan budaya membaca sebagai berikut :

1.    Meningkatnya jumlah pengunjung perpustakaan sekolah

2.    Tugas pelajaran untuk mencari literatur lain diluar bahan bacan yang tersedia di sekolah diselesaikan dengan baik oleh peserta didik

3.    Siswa tertib dan teratur dalam sikap perilaku sesuai dengan tulisan, gambar rambu-rambu  atau petunjuk-petunjuk tertulis lainnya yang terpampang disekolah

4.    Peserta didik gemar membaca tulisan apapun yang ada dilingkungan sekolah seperti brosur-brosur, tulisan pada papan pengumuman dan lain-lain.

5.    Peserta didik dapat menggunakan bahan bacaan lain yang dapat menunjang pelajaran dengan baik

6.    Siswa dapat memahami dengan baik prosedur-prosedur yang tertulis

D.   Kesulitan belajar peserta didik dalam menunjang kecepatan membaca

Faktor Penghambat Belajar

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar anak dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebutlah yang mempengaruhi hasil belajar anak. Berikut akan diuraikan tentang kedua faktor penghambat belajar.

Faktor Internal

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan biologis serta faktor psikologis.

  1. Faktor fisiologis dan biologis

Masa peka merupakan masa mulai berfungsinya factor fisiologis pada tubuh manusia. Faktor fisiologis adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor ini dibedakan menjadi 2, yaitu:

–   Keadaan tonus jasmani

Keadaan tonus jasmani sangat mempengaruhi aktivitas belajar anak. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap proses belajar. Sedangkan kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal.

–   Keadaan fungsi jasmani atau fisiologis

Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada anak sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama panca indera. Panca indera yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar.

Anak yang memiliki kecacatan fisik (panca indera atau fisik) tidak akan dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Meskipun juga ada anak yang memiliki kecacatan fisik namun nilai akademiknya memuaskan. Kecacatan yang diderita anak akan mempengaruhi psikologisnya, diantaranya:

– Sulit bergaul karena memiliki perasaan malu dan minder akan kekurangannya,

–  Ada perasaan takut diejek teman,

–  Merasa tidak sempurna dibandingkan dengan teman-teman lain. 

Perasaan yang menghantui anak dapat membuat prestasinya menurun. Namun ada juga anak yang menjadikan kekurangannya sebagai motivasi untuk maju. Cacat fisik membuat anak tidak dapat malakukan aktivitas belajar di sekolah dengan baik, sehingga perlu disediakan sekolah yang bisa menampungnya sesuai dengan cacat yang disandang. Misalnya bagi penyandang tuna netra bersekolah di SLBA, tuna rungu bersekolah di SLBB, dan sebagainya.

2.    Faktor psikologis

Faktor psikologis adalah faktor yang berasal dari keadaan psikologis anak yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis utama yang mempengaruhi proses belajar anak adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.

–  Kecerdasan/ intelegensi siswa

Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ tubuh lainnya. Namun bila dikaitan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan dengan organ lain, karena fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi dari seluruh aktivitas manusia.

Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar anak, karena  menentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi intelegensi seorang individu, semakin besar peluang individu untuk meraih sukses dalam belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain seperti orang tua, guru,dan sebagainya. Sebagai faktor psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru professional, sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasannya.

–    Motivasi

Motivasi adalah salah satu factor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasi yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan perilaku seseorang.

Keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri anak yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai motivasi belajar. Dari sumbernya motivasi dibedakan menjadi: motivasi ekstrinsik dan motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik adalah semua fat

Faktor yang berasal dari dalam individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Dalam proses belajar, motivasi intrinsik relatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari luar (ekstrinsik).

Menurut Arden N. frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar antara lain:

  1. Dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas
  2. Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan kegiatan untuk maju.
  3. Adanya keinginan untuk mancapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting. Misalnya: orang tua, saudara, guru, teman, dan sebagainya.
  4. Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain.

Motivasi ekstrinsik adalah anak memulai dan meneruskan kegiatan belajar berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaian dengan kegiatan belajar itu sendiri. Yang tergolong bentuk motivasi belajar ekstrinsik antara lain:

  1. Balajar demi memenuhi kewajiban.
  2. Menghindari hukuman.
  3. Memperoleh hadiah material yang telah dijanjikan oleh orang tua.
  4. Meningkatkan gengsi dari orang lain.
  5. Memperoleh pujian dari orang lain.
  6. Tuntutan jabatan yang diinginkan.

Bentuk motivasi belajar intrinsik dapat ditingkatkan menjadi motivasi berprestasi, yaitu daya penggerak dalam diri siswa untuk mencapai taraf prestasi belajar yang setinggi mungkin, demi penghargaan kepada diri sendiri. Jadi hasrat berprestasi tinggi bukan menurut ukuran dan pandangan sendiri.

–  Minat

Secara sederhana minat merupakan kecenderungan kegairahan yang tinggi atau besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003) minat bukanlah istilah yang populer dalam psikologi karena disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keinginan, motivasi, dan kebutuhan.

Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan disampaikan dengan cara.

>   Membuat menarik materi

Materi bisa dibuat menarik melalui bentuk buku materi, desain pembelajaran, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, dan guru juga harus memperhatikan performansi saat mengajar.

>   Pemilihan jurusan atau bidang sekolah

Pemilihan sebaiknya diserahkan pada siswa, sesuai dengan minatnya.

–  Sikap

Dalam proses belajar sikap dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajar. Sikap adalah gejala internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Shay,2003).

Sikap siswa dalam belajar dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negatif dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang profesional dan bertanggungjawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan profesionalitas seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi  siswanya, berusaha mengembang kepribadian sebagai seorang guru yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya, berusaha untuk menyajikan pelajaran yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan, meyakinkan siswa bahwa bidang studi yang dipelajarinya bermanfaat bagi siswa.

–  Bakat

Faktor psikologis lain yang mempengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum bakat didefisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaian dengan belajar, Slavin(1994) mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seseorang siswa untuk belajar. Dengan demikian bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.

Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Karena itu bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu untuk melakuakan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan latihan. Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap informasi yang berhubungan dengan bakat yang dimilikinya. Misalnya siswa yang berbakat dibidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa yang lain selain bahasanya sendiri.

Selain itu yang menjadi faktor psikologis lainnya adalah disiplin. Disiplin diri adalah kemampuan diri yang kuat untuk mempertahankan diri dari bermacam-macam gangguan dalam belajar. Misal, seorang anak akan tetap belajar walaupun ada acara televisi yang menarik.

Faktor Eksternal

Selain faktor internal, faktor eksternal juga dapat mempengaruhi proses belajar anak. Faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi faktor lingkungan sosial dan non-sosial (Syah, 2003):

Lingkungan sosial

Lingkungan sosial anak dapat menimbulkan kesulitan dalam  belajar. Linkungan sosial dibagi manjadi tiga, yaitu:

Lingkungan sosial sekolah

Pendidikan di sekolah bukan sekedar bertujuan untuk melatih siswa supaya “siap pakai” untuk kerja atau mampu meneruskan ke jenjang pendidikan berikutnya atau mencapai angka rapor, melainkan untuk membentuk peserta didik manjadi manusia sejati. Proses pembentukan manusia sejati sudah mulai sejak anak hidup dalam keluarga, kemudian dilanjutkan di sekolah, di masyarakat, di dunia kerja dan di lingkungan sekitar.

1.  Di sekolah

Di sekolah, untuk membentuk manusia sejati ada salah satu harapan dari pendidik yaitu Self Regulated Learner (SRL). SLR adalah murid-murid yang memiliki kemampuan belajar tinggi dan disiplin sehingga mereka membuat belajar itu lebih mudah dan menyenangkan. Namun harapan itu tidak akan terwujud jika lingkungan sekolah seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas tidak mendukung. Faktor-faktor yang dapat menghambat anak belajar di sekolah adalah:

  • Metode mengajar

Dalam mengajar guru memerlukan metode yang cocok. Metode ini dimaksudkan agar materi yang disampaikan oleh guru terasa menarik dan siswa mudah menyerapnya.

  • Kurikulum

Kurikulum yang kurang  tepat dapat menjadi salah satu faktor yang dapat menimbulkan kesukaran belajar. Kurikulum sangat penting dan selalu ada dalam sebuah instansi pendidikan. Kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan psikologi anak.

  • Penerapan disiplin

Disiplin dalam sebuah sekolah sangat diperlukan untuk meengontrol kegiatan siswa di sekolah. Namun kedisiplinan yang terlalu ketat akan membuat siswa merasa terkekang dan merasa ruang geraknya dibatasi.

  • Hubungan siswa dengan guru maupun teman

Suasana sebuah kelas didukung oleh peran guru dan anggota kelas. Jika suasana kelas tidak mendukung, maka dapat menghambat proses belajar anak. Hubungan siswa dengan guru, siswa dengan teman juga perlu dibangun sedemikian rupa sehingga tercipta suasana yang baik dan nyaman bagi siswa, sehingga mereka betah menjadi bagian dari kelas.

  • Tugas rumah yang terlalu banyak

Guru memberikan tugas untuk siswa merupakan hal yang wajar. Tetapi siswa akan merasa jenuh dengan tugas yang terlalu banyak. Bagi sebagian siswa tugas merupakan beban. Hal seperti inilah yang akan menghambat proses belajar anak.

  • Sarana dan prasarana

Keberhasilan belajar anak juga didukung oleh sarana dan prasarana yang ada. Sarana dan prasarana yang memadai juga membantu tercapainya hasil belajar yang maksimal.

2.  Lingkungan sosial masyarakat

Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa juga mempengaruhi proses belajar anak. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran, dan banyak teman sebaya di lingkungan yang tidak sekolah dapat menjadi faktor yang menimbulkan kesukaran belajar bagi siswa. Misalnya siswa tidak memiliki teman belajar dan diskusi maka akan merasa kesulitan saat akan meminjam buku atau alat belajar yang lain.

3.  Lingkungan keluarga

Keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar. Oleh karena itu, lingkungan keluarga sangat mempengaruhi proses belajar anak. Faktor dari keluarga yang dapat menimbulkan permasalahan belajar anak adalah:

  • Pola asuh orang tua

Setiap orang memiliki pola atau cara yang berbeda dalam mendidik anak. Pola asuh yang selalu mengekang anak akan membuat anak sulit dan bahkan tidak dapat mengembangkan kemampuan dan bakat yang dimiliki.

  • Hubungan orang tua dan anak

Hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan anak akan membuat anak tidak betah di rumah. Dengan begitu anak tidak akan bisa melaksanakan aktivitas belajarnya dengan baik.

  • Keadaan ekonomi keluarga

Meskipun tidak mutlak, perekonomian keluarga dapat menjadi salah satu penghambat anak. Ada kemungkinan anak menjadi minder dan malu bergaul dengan teman karena masalah ekonomi keluarganya. Dengan perasaan minder anak akan mudah tersinggung, kecil hati, dan sebagainya. Akhirnya hal tersebut akan mempengaruhi hasil belajar anak.

  • Keharmonisan keluarga

Keluarga yang tidak harmonis akan memberi dampak negatif pada anak dalam belajar. Pertikaian atau cek-cok ayah dan ibu akan membuat anak merasa terbebani sehingga anak menjadi kurang semangat dalam belajar.

  • Kondisi rumah

Kondisi rumah yang kurang memadai akan membuat anak kesukaran dalam belajar. Letak rumah juga berpengaruh pada proses belajar anak. Rumah yang terlalu dekat dengan jalan raya kurang efektif untuk belajar anak.

Teman sebaya

Teman sebaya dapat mempengaruhi proses belajar anak, baik teman sebaya dalam lingkup sekolah maupun tempat tinggal atau masyarakat. Pada usia anak-anak dan remaja, jiwa yang dimiliki masih labil, emosional, pemarah, dan juga rasa egois sangat besar. Biasanya tejadi kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh teman sebaya atau kawan bermain. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan atau bahkan persaingan yang menimbulkan sikap saling mengejek, mendorong, memukul bahkan kekerasan verbal.

Kekerasan sebagai gangguan emosi pada dasarnya tidak hanya menyerang orang lain, tetapi juga menyerang diri sendiri. Persoalan kekerasan dilihat dari lapangan psikologi pendidikan mencoba mengarahkan pada lingkungan sekolahtempat anak belajar berinteraksi dengan teman sebaya.

Interaksi sosial yang tidak sehat antar teman sebaya di sekolah dipengaruhi faktor lingkungan dari luar yang dibawa ke sekolah oleh peserta didik yang berujung pada tindakan kekerasan. Belajar yang tidak menyenangkan juga membuat anak merasa tertekan dan bertindak nakal. Sebenarnya kekerasan yang terjadi di kalangan siswa dibentuk dari pengalaman-pengalaman lama.

Teman sebaya  yang seharusnya bisa untuk memperoleh informasi dan perbandingan tentang dunia sosisal, prinsip keadilan malalui konflik yang terjadi dengan teman, bisa untuk belajar tentang konsep gender juga dapat berpengaruh negatif bagi anak. Misalnya kebiasaan-kebiasaan buruk yang dimiliki kawan sebayanya akan mudah mempengaruhi diri anak. Kebiasaan buruk yang mudah ditiru biasanya dari ucapan atau tindakan.

  1. Lingkungan non-sosisal

Faktor yang termasuk lingkungan non-sosial adalah

Lingkungan alamiah

Yang dimaksud dengan lingkungan alamiah adalah kondisi yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar tidak terlalu silau, tidak terlalu gelap, dan tenang.

– Instrumental

Instrumental dapat digolongkan dua macam:

Hardware

Yang termasuk perangkat hard ware adalah gedung sekolah, alat, fasilitas, sarana prasarana belajar, dan sebagainya.

Software

Yang termasuk perangkat software dalam pendidikan adalah kurikulum sekolah, peraturan, buku panduan, silabus, dan sebagainya.

Cara Mengatasi Hambatan Belajar

Saat timbul hambatan dalam belajar, hambatan tersebut harus segera diatasi. Dengan diatasi hambatan tersebut maka proses belajar dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai hasil belajarr yang maksimal. Cara mengatasi hambatan belajar dapat di mulai dari diri anak, keluarga, dan sekolah.

Diri anak

1.      Menjaga kesehatan jasmani.

2.      Menumbuhkan rasa percaya diri.

3.      Membangun motivasi diri.

4.      Belajar berinteraksi dengan lingkungan.

5.      Belajar menjaga emosi.

6.      Menerima keadaan (ekonomi, jasmani,dll).

Keluarga

1.     Memberi teladan dalam sikap dan tingkah laku kepada anak.

2.     Menjaga keharmonisan keluarga.

3.     Menyediakan waktu untuk mendampingi anak dalam belajar

4.     Megusahakan kesehatan anak, misalnya dengan makanan bergizi.

5.     Melatih anak dengan mengerjakan pekerjaan rumah (menyapu, mencuci piring, dll).

6.     Meminimalkan untuk membandingkan anak dengan anak yang lain.

7.     Mencukupi fasilitas dan saran prasarana belajar.

8.     Mambangun dan memberi motivasi anak.

Sekolah

1.    Guru mangendalikan diri (emosi) saat mengajar.

2.    Guru menjaga kedekatan dengan siswa maupun orangtua siswa.

3.    Guru bersikap adil pada semua siswa.

4.  Guru memberikan motivasi siswa, misalnya dengan pujian, dan sebagainya.

5.    Guru memberikan teladan yang baik pada siswa.

6.    Guru mengajar dengan menggunakan metode yang menyenangkan.

7.  Guru melihat kelemahan masing-masing siswa, misalnya ada siswa yang cacat fisik letak posisi duduk di depan.

8.    Guru mamberi tugas sesuai dengan kemampuan siswa.

9.    Lingkungan yang nyaman untuk belajar siswa.

10.  Memberikan kelonggaran tata tertib, namun tetap disiplin

DAFTAR PUSTAKA

Elle.2006. “PQ3R”. http//www.myellaa.blogspot.com. Diakses tanggal 13 November 2018

Hairuddin, dkk.2008. Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta : Dirjen Dikti dan Depdikbud

Ian.2010.”Pengertian Pemahaman”. http://www.slideshare.net. Diakses tanggal 8 Oktober 2012

Nana, Sudjana.1992. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Nurhadi.1987. Membaca cepat dan Efektif. Bandung : Sinar Baru

Rahim, Farida.2008. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta : Bumi Aksara

Suyatmi. Yant, Mudiyanto.1998. Buku Pegangan Kuliah FKIP-PBS Indonesia. Surakarta : Universitas Sebelas Maret

Tarigan, Hendry Guntur.1986. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Angkasa : Bandung

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai