Faktor-faktor Membaca

A.      Pengertian Membaca

Terdapat  beberapa  pengertian  membaca  menurut  para  ahli  seperti berikut.

Anderson dalam Tarigan (2008, hlm.7) berpendapat bahwa:

Membaca adalah suatu preses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding presess), berlainan dengan berbicara dan menulis yang justru melibatkan penyandian (encoding).Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tertulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning) yangmencakup pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna.

Hodgson (Tarigan, 2008, hlm.7) menjelaskan bahwa:

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu p kitangan sekilas dan makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.

Finochiaro dan Bonomo dalam Tarigan (2008, hlm.7) menjelaskan

bahwa  Reading  adalah  bringing  meaning  to  and  getting  meaning  from printed ow written material, memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tertulis.

Dari     ketiga  definisi            yang   telah    dipaparkan diatas dapat ditarik kesimpulan   bahwa membaca            adalah  proses  pemahaman tulisan untuk mendapatkan pesan atau makna dari sebuah tulisan.

B.        Kendala-kendala dalam Membaca dan Cara Mengatasinya

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pemahaman menurut Farida Rahim (2008: 16) yaitu faktor fisiologis, intelektual, lingkungan dan psikologis. Faktor fisiologis mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, jenis kelamin, dan kelelahan. Gangguan alat bicara, alat pendengaran, dan alat penglihatan juga dapat memperlambat kemajuan belajar anak. Secara umum ada hubungan positif antara kecerdasan dengan kemampuan membaca. Namun tidak semua siswa yang memiliki intelegensi tinggi mampu menjadi pembaca yang baik. Faktor lingkungan dapat berupa latar belakang anak di rumah dan faktor sosial ekonomi.

Menurut Soedarso (2006: 5) yang menjadi penghambat membaca cepat antara lain : Vokalisasi, gerakan bibir, gerakan kepala, menunjuk dengan jari

Hambatan atau kendala seseorang dalam membaca akan mengurangi efektifitasnya dalam membaca. Hal ini tentu akan berakibat pada hasil dari kita membaca.

1. Sulit Konsentrasi

Kesulitan konsentrasi bisa disebabkan beberapa faktor diantaranya: kelelahan fisik dan mental, bosan, atau banyak hal lain yang sedang dipikirkan. Konsentrasi juga dapat terganggu dengan adanya hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian seperti suara musik yang keras, TV yang menyala, orang lalu-lalang, dan lain-lain.

Kesulitan konsentrasi membuat pikiran melayang entah ke mana dan huruf-huruf yang dibaca pun ikut menguap terbang. Dalam membaca konsentrasi sangat penting karena menentukan kemampuan  kita menangkap dan memahami isi bacaan. Apalagi ketika  kita membaca cepat, maka konsentrasi yang baik akan memastikan bahwa kecepatan baca berbanding lurus dengan pemahaman dan bukan sebaliknya.

Untuk itu ketika mulai membaca, coba atasi faktor-faktor yang menyebabkan  kita sulit berkonsentrasi. Cari tempat yang tenang, memiliki penerangan yang cukup, suhu ruangan yang nyaman, dan tempat duduk yang enak dipakai. Jika ada gangguan, selesaikan dulu sebelum  kita mulai membaca.

Setelah hal di atas dilakukan, selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan konsentrasi itu sendiri. Dalam membaca cepat konsentrasi yang dibutuhkan adalah kerjasama antara mata dan otak di mana mata bekerja menangkap kata dengan cepat dan otak menerjemahkan, mengomentari, dan memahami kata demi kata yang ditangkap.

Latihan Memusatkan Konsentrasi:

Ada dua buah latihan memusatkan konsentrasi yang cukup baik yang penulis temukan di buku karya Soedarso, Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Dua latihan tersebut dikutip dari Chung Moo Il, Membaca Dinamis (Cepat) berupa mengurai benang kusut dan menghitung titik. Ternyata latihan ini tidak mudah dan kalau  kita belum terbiasa, mata dapat berair dan cukup tegang. Berikut saya adaptasi latihan tersebut untuk  kita.

Perhatikan gambar benang kusut berikut.  kita akan mulai dari bagian awal sesuai petunjuk anak panah dan mengikuti jalur benang kusut tersebut sampai berakhir. Dalam latihan ini  kita tidak boleh menggunakan alat bantu seperti jari atau pensil untuk memudahkan penelusuran. Gunakan mata  kita dan rasakan otot-otok mata yang bekerja sambil mempertahankan konsentrasi agar jalur benang tidak tersesat.

Apa yang  kita rasakan? Sebagian orang melakukannya dengan perlahan dan di tengah-tengah konsentrasi menjadi buyar. Sebagian yang lain masih terus dapat mengikuti dengan cepat. Ada orang yang dapat melakukan dengan sangat cepat tanpa tersesat.

Bagaimana rahasianya? Ketika  kita mulai menelusuri, mata  kita sebenarnya sudah menangkap sampai panjang tertentu di mana benang tersebut terhubung. Segera pindah ke bagian tersebut dan tangkap lagi bagian terjauh yang dikenali mata  kita. Demikian seterusnya sampai selesai.

Hal seperti ini nantinya akan  kita lakukan dalam baca cepat di mana ketika melihat sekumpulan huruf, otak  kita sudah bisa mengenali kata dan ketika  kita melihat dengan jangkauan lebih luas, otak  kita sudah mengenali frasa dan bahkan kelompok kata yang lebih besar.

Ingin tantangan berikutnya? Silakan hitung jumlah titik-titik horizontal berikut ini baik yang besar maupun yang kecil. Peraturan yang sama tetap berlaku: dilarang menggunakan jari, pensil atau alat bantu hitung lainnya. Gunakan hanya mata dan otak  kita.

Apa yang  kita rasakan? Saya yakin jika belum terbiasa mata  kita akan cukup lelah dan seperti ada otot yang ditarik-tarik. Tidak mengapa, hal tersebut pert kita baik karena  kita mulai mengaktifkan otot-otot mata dengan lebih intensif. Nantinya dalam tulisan berikutnya  kita akan belajar senam mata untuk melatih kecepatan dan irama pergerakannya.

2. Rendahnya Motivasi

Hambatan berikutnya dalam membaca adalah motivasi. Gangguan ini terutama dialami mahasiswa ketika harus membaca text book tebal yang tidak disukai. Rendahnya motivasi akan muncul ketika  kita hendak membaca suatu buku tapi tidak terlalu tahu buku tersebut tentang apa. Maka  kita akan cenderung membaca sekedarnya saja dan tidak terlalu berminat untuk membaca dengan pemahaman yang baik.

Bagaimana mengatasi motivasi ini? Caranya adalah  kita harus menemukan jawaban mengapa  kita perlu membaca buku tersebut. Jika buku tersebut text book perkuliahan yang tebal dan membosankan, coba bayangkan apa yang menarik dari judulnya, topik-topik yang dibahas di dalamnya, dan apa yang bisa  kita aplikasikan jika menguasai buku tersebut. Jika buku tersebut sebuah biografi, coba bayangkat betapa hebatnya orang yang dibahas, apa yang telah dia lakukan akan dapat menjadi pelajaran bagi  kita. Jika buku tersebut adalah buku-buku self help atau Management, bayangkan apa yang akan terbantu jika  kita bisa menguasainya.

Jika telah berusaha sekuat tenaga dan tetap tidak memiliki motivasi untuk membaca sebuah buku tertentu, maka jangan-jangan buku tersebut memang tidak cocok buat  kita dan harus diganti dengan buku yang lain.

Mengapa motivasi penting dalam membaca? Nantinya ketika  kita mulai membaca teks yang panjang, motivasi inilah yang akan mempertahankan stamina  kita dan memberi kekuatan untuk terus membaca sampai selesai karena ingin mengetahui dan memahami isinya. Tanpa motivasi mungkin ada bisa membaca sampai beberapa halaman, tapi setelah itu segera bosan dan malas meneruskannya.

Motivasi menjadi pendukung konsentrasi dan saling bantu membantu dalam menciptakan pemahaman yang utuh baik secara nalar maupun emosional. Jika  kita memiliki otak yang cemerlang dan konsentrasi yang tinggi, mungkin  kita bisa memahami materi dengan mudah. Akan tetapi, motivasi-lah yang membantu untuk mempertahankan pemahaman tersebut dalam jangka panjang karena motivasi melibatkan emosi dan keinginan untuk menikmati suatu bahan bacaan.

3.    Khawatir Tidak Memahami Bahan Bacaan

Ada orang yang minder duluan ketika baru melihat buku yang hendak dibaca. Dia khawatir bahwa buku tersebut terlalu berat dan nanti tidak bisa dipahami. Rasa khawatir ini ternyata akan menjadi kenyataan jika  kita terus membawanya ketika membaca. Kekhawatiran bahwa  kita tidak bisa atau sulit memahami isi bacaan akhirnya akan benar-benar menjadi kenyataan.

Untuk itu singkirkan semua kekhawatiran tersebut. Yakinkan pada diri  kita bahwa meskipun buku yang hendak dibaca mungkin cukup sulit, bukan berarti  kita tidak bisa memahaminya. Batu yang keras sekalipun akan berlubang oleh tetesan air yang terus menerus.

Rasa khawatir ini paling sering jika membaca buku pelajaran terutama pada saat menjelang ujian. Ada perasaan waktu  kita cukup terbatas,  kita kurang memiliki pengetahuan, soal yang ditanyakan mungkin sangat beragam dan  kita harus menguasai satu buku secara penuh untuk memahaminya. Kekhawatiran ini akan mengganggu kecepatan baca maupun pemahaman  kita.

Jika  kita adalah seorang pelajar atau mahasiswa, maka saya sarankan, secara rutin bacalah buku teks yang diwajibkan jauh-jauh hari sebelum ujian. Dengan demikian rasa khawatir tidak memahami akan hilang dan  kita dapat membacanya jauh lebih rileks dan nyaman. Ketika ujian sudah menjelang,  kita tinggal mengulang sedikit poin-poin penting untuk memastikan topik tersebut masih dikuasai tanpa perlu membaca lagi keseluruhan buku.

4.    Kebiasaan-Kebiasaan Buruk Dalam Membaca

a. Regresi (Pengulangan ke belakang)

Pernahkah  kita membaca suatu kalimat atau paragraf kemudian tidak yakin dengan isinya atau merasa kurang paham kemudian  kita balik lagi dan mengulang kalimat atau paragraf tersebut. Bayangkan jika dalam satu halaman saja  kita melakukannya 10-15 kali, berapa banyak waktu yang telah terbuang.

Untuk mulai membaca cepat, maka  kita juga harus menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk di atas. Adapun cara untuk melatih menghilangkan kebiasaan buruk tersebut akan saya jelaskan pada posting selanjutnya. Silakan terus mengikuti.

b. Vokalisasi

Vokalisasi atau membaca dengan bersuara adalah sangat memperlambat membaca, karena hal itu berarti mengucapkan kata demi kata dengan lengkap. Menggumam, sekalipun dengan mulut terkatup dan suara tidak terdengar, jelas termasuk membaca dengan bersuara.


c. Gerakan bibir

Menggerakkan bibir atau komat-kamit saat membaca, sekalipun tidak mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara. Kecepatan membaca bersuara ataupun dengan gerakan bibir hanya seperempat dari kecepatan membaca secara diam. 

d. Gerakan kepala

Semasa kanak-kanak penglihatan  kita masih sulit menguasai seluruh penampang bacaan. Akibatnya adalah  kita menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untuk dapat membaca garis-garis bacaan secara lengkap. Setelah dewasa, penglihatan  kita telah mampu secara optimal sehingga seharusnya cukup mata saja yang bergerak. 

e. Menunjuk dengan jari

Semasa baru belajar membaca  kita harus mengucapkan kata demi kata apa yang  kita baca. Untuk menjaga agar tidak ada kata yang terlewati maka diperlukan bantuan jari atau pensil untuk menunjuk kata demi kata. Cara membaca seperti ini sangat menghambat membaca sebab gerakan tangan lebih lambat daripada gerakan mata.   

Dari beberapa kebiasaan buruk diatas, maka jika kita ingin agar mendapatkan hasil yang maksimal dari kegiatan membaca kita, maka kita harus menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut, dan ini kembali lagi pada motivasi yang kita tanamkan dalam diri kita dalam membaca.

Diterbitkan oleh Ahmad Maskuri

mahasiswa di Universitas Peradaban Bumiayu jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai